
Pada kehidupan sehari-hari, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu stres. Stres sendiri ialah gangguan mental yang dihadapi seseorang karena adanya tekanan.
Tekanan ini ada karena kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau hasrat. Buat menghindari stres berkelanjutan, menyantap cokelat seringkali diklaim bisa sebagai solusi.
Lantas, benarkah demikian?
" jikalau dalam keadaan stres, makan suatu makanan tertentu misalnya cokelat, menimbulkan pengaruh yang beda-beda di tiap orang. ada yang bersemangat melakukan sesuatu atau justru jadi
rileks," ungkap Ajeng Raviando, seseorang psikologi, saat ditemui di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 September 2017.
Meski begitu, menurut Ajeng, suasana hati yang disebabkan oleh cokelat tidak terbatas hanya satu mood seperti menjadikan rileks ketika stres, melainkan terdapat beragam mood lainnya yang mampu didapatkan usai mengonsumsi cokelat
" Tidak ada patokan waktu khususnya ya untuk berapa lama efek yang ditimbulkan setelah makan cokelat. Karena ada kandungan di dalam cokelat yang bisa memicu hormon manusia menjadi rileks dan nyaman," imbuhnya.
Meski mampu menetralisir stres, dalam psikologi tidak ada anjuran untuk besar takaran yang baik mengonsumsi cokelat. Sangat tergantung pada kondisi fisik dan psikologis tiap individu.
" Tidak ada berapa patokannya, ya. Itu balik ke perilaku disesuaikan dengan kebutuhan aja," katanya menambahkan.
