
Mungkin ada baiknya jika diri kita sedang dikuasai oleh amarah buat mencoba lebih banyak bersabar. Menjaga ucapan merupakan salah satu contoh dari sifat kesabaran itu sendiri. Karena sungguh lebih berat menjaga mulut daripada menjaga perbuatan. Banyak ungkapan yg menceritakan betapa pentingnya buat menjaga ucapan. Ada yang bilang “mulutmu harimaumu”, “lidahmu ialah ularmu”, ataupun ungkapan berasal Arab yang bunyinya lebih kurang seperti ini: “Hati itu laksana periuk, dan ekspresi ialah indera ciduknya. Maka lihatlah seorang bila sedang berbicara. Di waktu itu lisannya mirip sedang menciduki apa-apa yang ada di dalam hatinya. Ia mampu cantik atau masam, bisa tawar atau asin. Dan mampu mengungkapkan kepadamu tentang keadaan hati orang itu adalah hasil cidukannya (atau ungkapan lisannya)”.
Lidah tak bertulang… apa yang sudah keluar, ibarat peluru pistol yang melesat cepat, tidak mungkin bisa ditangkap. Jika tidak sabar menahannya, bisa menjadi senjata makan tuan.
Karena itulah, iman manusia bisa tergadaikan dengan lisannya.
Dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan siapa yang tetangganya tidak merasa aman dari tinda kejahatannya, maka dia tidak akan masuk surga.” (HR. HR Ahmad 12636)
Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.
Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring, lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi setan untuk merusak menusia tercapai.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الـجَنَّة
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Lidah ketika dibawa marah, dia bisa menjadi sangat liar. Karena itu, diam bisa menjadi solusi yang terbaik, jika susah bicara yang baik.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Kita marah kepada si kafir yang menghina al-Quran.Kita marah kepada mereka yang melindungi dan memihak si kafir.Namun, jangan sampai marah ini mengundang dosa yang baru.Jangan sampai ada kehormatan muslim yang lain dilanggar, karena marah…
Rutinkan doa ini…
اَللَّهُمَّ نَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الحَقِّ فِي الرِضَا وَالغَضَبِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang senang) dan sedang marah
[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no. 3039]
Semoga bermanfaat
